Vinny's Blog

Laman

  • Sebuah Lagu
  • Sebuah Cerita

Sabtu, 17 Agustus 2013

Abaikan Saja




Bacaan: II Timotius 2:1-7

Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya,- II Tim 2:4



Tahu kebiasaan buruk yang paling sering dilakukan oleh manusia? Membesar-besarkan masalah kecil bahkan mendramatisirnya begitu rupa! Masalah sepele yang seharusnya diabaikan justru kita ributkan sampai-sampai energi, emosi dan waktu kita terkuras habis. Bahkan persoalan yang tak berarti kita anggap seolah-olah itu mati hidupnya kita.
Jika Anda punya kebiasaan ini, Anda tidak sendiri. Sejujurnya, saya juga mengalaminya. Saya terlalu merisaukan dan meributkan hal-hal kecil. Tak hanya itu, saya juga meniupnya keras-keras sampai masalah kecil itu menggelembung dan terlihat menjadi begitu besar. Saya bertindak sebagai aktor yang hebat untuk mendramatisir perkara-perkara sepele. Saya marah besar kalau ada sopir yang tiba-tiba memotong jalan. Saya sebal dengan mereka yang menyerobot antrian panjang dan sekarang berdiri persis di depan saya. Saya jengkel ketika seseorang mulai menggosipkan saya. Saya sering emosi kalau komputer saya sedang rewel dan seolah-olah sedang “mempermainkan” saya. Kegembiraan saya raib seketika dan ini waktunya untuk meledak dalam kemarahan besar!
Banyak hal-hal kecil serupa yang akan mewarnai kehidupan kita setiap hari. Jika kita terus meributkan masalah-masalah kecil ini, tentu hidup kita tak pernah bahagia. Daripada membuat masalah kecil menjadi masalah besar, seharusnya kita memilih untuk mengabaikannya. Daripada mendramatisir masalah sampai hal itu membebani hidup kita, bukankah lebih baik jika kita tidak memusingkan semua hal-hal kecil itu?
Jangan sampai hal-hal kecil merebut perhatian kita sehingga hal-hal besar menjadi terlupakan. Jangan sampai hal-hal sepele menguras energi kita, sampai-sampai kita tidak punya daya untuk menghadapi masalah yang lebih serius. Jangan salah paham. Saya tidak menyarankan Anda untuk menyepelekan hal-hal kecil dalam hidup Anda. Saya hanya menjaga agar Anda tetap cool walau sedang bete, mengutip istilah anak muda jaman sekarang. Hari ini mungkin kita akan diperhadapkan dengan orang-orang yang sulit dan menjengkelkan. Cuaca mungkin kurang bersahabat. Mobil kesayangan tiba-tiba mogok. Jalanan yang biasanya lancar jadi macet. Jangan ributkan hal-hal kecil itu dan menyulapnya menjadi masalah besar.
Tetaplah tersenyum ketika harus berhadapan dengan orang yang sangat menjengkelkan Anda pada hari ini.
Diposting oleh Unknown di 02.01 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kamis, 15 Agustus 2013

The Window



Bacaan: I Tesalonika 5:16-18

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus .. - I Tes 5:18


Mungkin Anda pernah membaca kisah singkat yang ditulis oleh G.W. Target yang berjudul “The Window”. Ini kisah tentang dua orang pasien di sebuah kamar rumah sakit yang sempit. Seorang pasien berada di sudut ruangan sehingga ia tidak bisa melihat apa-apa, sementara pasien yang satunya lagi berada di dekat jendela yang terbuka. Pasien yang berbaring di dekat jendela ini selalu men- ceritakan hal-hal indah yang dilihatnya. Ia menceritakan tentang sebuah danau kecil yang dilihatnya. Ia menceritakan indahnya bunga yang berwarna-warni mengelilingi pohon ek yang kokoh. Siang malam ia selalu menceritakan hal-hal indah yang dapat dilihatnya kepada temannya yang berada di sudut ruangan itu. 
Tak lama kemudian, pasien yang berbaring di dekat jendela ini meninggal karena kronisnya penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Segera sesudah itu, pasien yang berada di sudut ruangan meminta kepada petugas rumah sakit untuk pindah di ranjang bekas pasien yang meninggal itu dengan harapan akan melihat semua hal indah seperti yang diceritakan kepadanya selama ini. Dengan jantung berdegup kencang membayangkan apa yang akan dilihatnya pasien itu perlahan-lahan mengarahkan pandangannya ke jendela itu. Lalu, apa yang dilihatnya? Tak lain hanyalah sebuah tembok kosong! 
Lewat cerita populer ini, apakah Anda bisa memetik sebuah pelajaran rohani? Sikap dan cara pandang yang positif! Sejujurnya, sikap ini menjadi sangat langka di jaman ini. Kebanyakan orang akan bereaksi seperti yang dilihatnya. Jika kita hanya melihat tembok kosong, tentu kita akan menjadi bosan dan mengeluh. Jika kita melihat masalah, tentu kita akan menjadi sedih. Jika kita menerima perlakuan yang tidak adil, sangatlah wajar jika kita menjadi marah dan dipenuhi dengan kebencian. Sebenarnya, hidup akan menjadi lebih berat untuk dijalani di saat kita lebih banyak memfokuskan diri kepada hal-hal negatif yang terjadi di sekeliling kita daripada kita mencoba mengarahkan diri kepada iman yang positif.
Apakah hari ini kita sedang berbaring di dekat jendela dengan tembok yang kosong? Meski malam membuat langit menjadi gelap, kita tetap saja bisa melihat indahnya kemilau bintang di malam hari. Dalam situasi yang paling negatif sekalipun, masih ada sisi-sisi positif yang bisa kita syukuri. 
Sebuah masalah tidak akan pernah menjadi masalah selama kita melihatnya dengan sudut pandang positif.
Diposting oleh Unknown di 02.11 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kesalahan Yang Sama




Bacaan: Roma 5:18-6:4

Bolehkah kita bertekun dalam dosa,supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak!...- Roma 6:1-2


Seorang ibu dengan kedua telinganya yang terbakar tengah diperiksa oleh dokternya. "Ketika saya tengah menyeterika, tiba-tiba telepon berdering," jelas ibu itu. Sang dokter hanya tersenyum membayangkan kelatahan ibu itu meletakkan seterika panas ke telinganya sambil berkata 'halo'. "Tapi mengapa bisa kedua telinga Ibu terbakar?" tanya dokter itu penasaran. "Anu, yang satunya ini gara-gara setelah itu saya mencoba menelpon ambulans." 
Seringkali kita melakukan hal yang hampir sama dengan ibu itu. Kita mengulangi kesalahan dan kebodohan yang sama dalam hidup kita. Adalah hal yang relatif wajar bila seseorang terjatuh ke dalam lubang yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Tetapi akan menjadi hal yang aneh bila ia berkali-kali jatuh kembali ke lobang yang sama. Itu artinya ia tidak belajar dari kesalahan yang pernah dibuatnya.
Hidup kita dipenuhi dengan berbagai kesempatan. Termasuk salah satunya adalah kesempatan untuk belajar dari setiap pengalaman yang penah kita alami. Saya percaya bahwa Roh Kudus adalah Pribadi yang sabar dalam membimbing dan mengajari kita untuk melakukan Firman Tuhan. Namun sayangnya kesabaran Tuhan itu seringkali justru disalahgunakan untuk kita terus bernyaman-nyaman hidup dalam dosa.
Seringkali kita justru menikmati kejatuhan kita. Kita memanfaatkan kesempatan untuk bertobat lagi dan bertobat lagi tetapi dalam dosa yang sama! Rasul Paulus dengan tegas memberikan pengajaran kepada jemaat di Roma untuk tidak memiliki pola pikir dan konsep hidup seperti itu. Jangan pernah menjadikan anugerah Tuhan itu sebagai alat untuk memanipulasi Tuhan. Bayangkan bila kesabaran Anda sebagai orang tua justru dimanfaatkan oleh anak Anda untuk berbuat kurang ajar. Anda tentu akan merasa diremehkan, marah dan suatu saat mengubah sikap Anda yang sabar menjadi lebih keras agar anak Anda tidak bersikap seperti itu lagi. 
Tentunya kita tidak akan menginginkan Tuhan memperkeras didikannya karena sikap kita yang menyepelekan anugerah-Nya, bukan? Karena itu jika sampai hari ini Tuhan masih memberikan kesempatan sekali lagi pada kita untuk bertobat, jangan pernah meremehkannya karena siapa tahu ini kesempatan kita yang terakhir. 
Diposting oleh Unknown di 01.39 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Selasa, 13 Agustus 2013

Your Prespective



Bacaan: II Raja-raja 6:8-23

Ya Tuhan :Bukalah kiranya matanya supaya ia melihat ... - II Raja-raja 6:17


Baik atau buruk itu tergantung dari cara kita memandang. Masalah bisa menjadi buruk tapi bisa juga menjadi baik, itu juga tergantung dari cara kita memandang. Lihatlah hal yang baik dengan cara pandang yang buruk, maka hal itu akan terlihat sedemikian negatif. Sebaliknya, lihatlah hal yang buruk dengan cara pandang yang baik, secara mengejutkan kita akan melihat hal-hal yang positif.
Dean Black menceritakan dua kisah nyata mengenai hal ini dalam buku Frogship Perspective. Seorang pemain bola basket berbakat, ketika berusia 16 tahun kehilangan kedua kakinya dalam sebuah kecelakaan. Ini hal yang buruk bagi Curt Brinkman, pebasket muda tersebut yang akhirnya menjadi atlet kursi roda terkenal. Ia berkata, “Segera sesudah kecelakaan itu saya bangkit. Saya justru tidak tahu seperti apa kalau kaki saya masih ada.” Seorang pria setengah baya melihat kembali dari kebutaan matanya semenjak lahir. Lalu seorang psikolog yang menanganinya berkomentar tentang mantan pria buta ini, “Waktu buta, dia hebat sekali. Tapi waktu dia sembuh, prestasinya merosot drastis, bahkan seperti orang bodoh.” *
Bagi kita kehilangan kedua kaki adalah masalah besar, tapi bagi Curt Brinkman justru adalah kunci kesuksesan. Bagi kita mendapat kembali penglihatan adalah hadiah, tapi bagi pria separuh baya tersebut adalah masalah besar. Mengapa bisa demikian? Ini bukan soal masalahnya, tapi soal bagaimana kita melihat sebuah masalah. Perlu saya tekankan sekali lagi, lihatlah hal yang baik dengan cara pandang yang buruk, maka hal itu akan terlihat sedemikian negatif. Sebaliknya, lihatlah hal yang buruk dengan cara pandang yang baik, maka kita akan melihat hal-hal yang positif.
Apakah hari ini kita sedang mengalami masalah? Bagaimana cara kita memandang masalah tersebut? Tuhan selalu mengajar agar kita melihat segala masalah dari sudut pandang yang positif. Ini seperti orang yang memakai kacamata. Memakai kacamata hitam akan membuat obyek yang paling terangpun akan terlihat gelap. Jadi jika hari ini hidup Anda terlihat begitu suram dan gelap untuk dijalani, jangan-jangan yang salah adalah kacamata Anda.

Lihatlah setiap masalah yang paling buruk sekalipun dengan kacamata positif.
Diposting oleh Unknown di 01.30 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Hal Kecil




Bacaan: Amsal 30:24-33

Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan- Amsal 30:24



Benjamin Franklin pernah berkata, “Pukulan-pukulan kecil dapat menumbangkan pohon oak yang besar !” Memang mengherankan ketika melihat hal-hal yang penting dan temuan-temuan besar di dunia ini justru lahir dan berasal dari hal-hal yang kecil. Kita selalu punya kecenderungan untuk melihat sesuatu yang besar daripada memperhatikan sesuatu yang kecil. Hal-hal kecil biasanya kita lewatkan begitu saja, padahal melewatkan hal-hal kecil sebenarnya menutup pintu bagi kemungkinan-kemungkinan besar. 
Siapa peduli dengan sarang laba-laba? Tidak ada yang suka dengan sarang laba-laba, kecuali Spiderman tentunya. Sarang laba-laba identik dengan tempat yang kotor, jorok dan jarang dibersihkan. Melihat sarang laba-laba membuat kita jadi tidak sabar lagi untuk segera mengambil sapu dan menghilangkan sarang laba-laba itu. Sementara banyak orang melewatkan hal-hal yang kecil, seorang yang peduli dengan hal-hal kecil justru terinspirasi dengan sarang laba-laba ini. Inspirasi dari sarang laba-laba inilah yang kemudian melahirkan gagasan untuk membuat jembatan gantung! Siapa peduli dengan suara ketel di atas kompor? Suara itu benar-benar mengganggu dan berisik. Membuat kita tak sabar untuk segera mematikan kompor agar suara ketel itu berhenti. Mempedulikan suara ketel adalah tindakan yang bodoh, tapi justru dari suara ketel itulah mesin uap kemudian diciptakan oleh seorang James Watt.

Telah terbukti bahwa hal-hal besar selalu lahir dari hal-hal kecil. Seringkali kita melewatkan banyak hal kecil terjadi begitu saja. Kita terlanjur punya konsep bahwa hal-hal besar selalu lahir dari pemikiran yang rumit. Itu sebabnya kita selalu disibukkan dengan hal-hal besar dan hal-hal paling rumit, dan tidak pernah mempedulikan hal-hal kecil yang nampaknya terlalu sederhana untuk dipikirkan. Terbukalah dengan hal-hal kecil. Belajar peka dan kritis dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita. Jangan pernah membiarkan hal-hal kecil terlewatkan begitu saja, tanpa kita bisa belajar darinya. Jangan sampai suatu saat kita akan dipermalukan akibat kita selalu meremehkan hal-hal kecil.
Semua hal besar selalu berawal dari hal kecil.
Diposting oleh Unknown di 01.24 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kasih Setia Tuhan


Bacaan: Mazmur 12:7-8

“Saat kupikirkan kebaikan-Mu tak pernah ku kekurangan. Dan saat kurenungkan kesetiaan-Mu, esok kan kujelang tanpa keraguan surya kan terus ada...” Lagu pujian yang dilantunkan grup band Giving My Best (GMB) ini, membuat saya merenungkan betapa dahsyatnya kesetiaan Tuhan. Janji Tuhan enggak pernah sekalipun lalai ditepati-Nya. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata,”Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” Kalo terhadap seekor burung aja Tuhan setia memelihara, apalagi kepada kita.
Pernahkah di malam hari kita mengkuatirkan jangan-jangan besok pagi matahari tidak akan terbit? Tentu saja kita bahkan tidak pernah meragukan kesetiaan matahari untuk terbit setiap harinya. Kita juga tidak pernah meragukan apakah esok matahari akan terlambat terbit. Kita yakin bahwa matahari pasti terbit tepat pada waktunya. So, kalo terhadap benda mati seperti matahari aja kita bisa percaya, terlebih lagi seharusnya kita terhadap Tuhan.
Janji Tuhan dalam hidup kita senantiasa ditepati-Nya. Tuhan tidak pernah lalai, lupa, apalagi mengingkari perkataan-Nya. Jadi, kenapa kita masih aja ragu terhadap Firman Tuhan? Kita seharusnya enggak punya alasan untuk meragukan Tuhan. Persoalannya justru terletak pada diri kita sendiri. Apakah kita mempercayai kuasa Tuhan ataukah kita lebih suka mengandalkan manusia dan kekuatan diri kita sendiri. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa orang yang mengandalkan Tuhan akan senantiasa diberkati.
Yang perlu kita lakukan agar janji-janji Tuhan digenapi dalam hidup kita adalah: pahami janji-Nya (makanya kita perlu belajar Firman-Nya setiap hari), lakukan bagian kita (lakukan syarat apa yang harus kita penuhi), percayalah bahwa Dia setia (miliki iman!) dan akhirnya kita akan melihat janji-Nya tidak pernah gagal dalam hidup kita. Saya rindu senantiasa dalam hidup ini melihat janji-Nya digenapi, dan saya yakin saya enggak sendirian. Kamu juga, kan?

Diposting oleh Unknown di 01.10 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tuhan Besar ( Renungan )



Bacaan: Markus 4:35-41

Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu ... - Markus 4:37


In times of difficulties, don’t ever say, “God, I have a big problem”, but instead, “Hey problem, I have a big God” and everythings will be alright.

Saat masa-masa sulit datang, jangan pernah berkata, “Tuhan, aku memiliki masalah besar”, tetapi seharusnya kita berkata, “Hei masalah, aku memiliki Tuhan yang besar” dan semuanya akan menjadi baik!
Kita sulit menjadi orang berkemenangan karena memiliki cara pandang yang keliru tentang sebuah masalah yang sedang terjadi dalam kehidupan kita. Daripada melihat kebesaran Tuhan, kita justru terfokus untuk melihat besarnya masalah yang sedang kita alami. Akibatnya, kita menjadi kecut dan tawar hati. Bahkan belum apa-apa kita sudah menyerah kalah dan menjadi putus asa.
Hal yang sama pernah dialami oleh murid-murid ketika mereka bersama Yesus sedang melaut. Saat badai besar datang, mereka mulai panik dan ketakutan mereka makin menjadi-jadi saat perahu yang mereka tumpangi mulai penuh air dan hampir tenggelam. Mengapa mereka menjadi begitu ketakutan menghadapi badai? Bukankah Yesus pada waktu itu sedang bersama-sama dengan mereka? Jawabannya sederhana, karena mereka lebih fokus kepada badai itu daripada fokus kepada Tuhan Yesus! Sikap beda ditunjukkan oleh Daud ketika berperang melawan raksasa Goliat. Memang Goliat sangatlah besar, tapi pandangan rohaninya ia tujukan kepada Allah Israel yang jauh lebih besar daripada raksasa Goliat yang ada di hadapannya. Itu sebabnya Daud sama sekali tidak takut dan berhasil memenangkan pertempuran.
Apa yang akan kita lihat saat masalah datang? Apakah kita akan melihat besarnya masalah ataukah kita melihat kebesaran Tuhan? Sesungguhnya apa yang tergambar di mata kita akan menentukan apakah kita menjadi orang Kristen yang berkemenangan atau tidak. Tak perlu melihat ganasnya kanker yang menggerogoti tubuh, Ia jauh lebih berkuasa daripada kanker. Tak perlu melihat betapa besarnya hutang yang melilit, Ia mampu membebaskan dan memerdekakan kita secara finansial. Tak perlu melihat parahnya keadaan keluarga kita, belum terlambat untuk mengarahkan pandangan Anda kepada Tuhan dan menyerahkan kemudi kepadaNya. Tak perlu takut dengan masalah besar, sebab kita memiliki Tuhan yang besar. Apa yang tergambar di mata Anda?
Apapun masalah yang sedang Anda hadapi, jalanilah hari ini dengan mata yang tertuju kepada Kristus.
Diposting oleh Unknown di 00.23 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Senin, 15 Juli 2013

Tekun Dan Setia ( Buku Teeneagle )

Hakim-Hakim 6: 11-24" Kemudian datanglah malaikat Tuhan dan duduk dibawah pohon tarbantin di Ofra, kepunyaan Yoas, orang Abiezer itu, sedang Gideon, anaknya, mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur agar tersembunyi bagi orang Midian. "


Seringkali dalam Alkitab, panggilan Tuhan justru datang pada saat tokoh-tokoh Alkitab itu sedang tekun mengerjakan sesuatu. Contoh itu dapat kita lihat dari kehidupan Daud,Musa,Ezra,Matius,Lukas,Petrus,Gideon, dll

Gideon adalah seorang petani. Dia mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan setiap harinya. Namun dia adalah orang biasa yang ketakutan akan orang Midian yang bisa sewaktu waktu datang dan menyerang karena pada wakt itu, musuh Israel adalah bangsa Midian itu. Gideon enggak memiliki rencana jangka panjang. Namun dia tekun dan setia mengerjakan apa yang pada saat itu dia kerjakan .
tantangan yg dihadapi Gideon adalah menyediakan makanan yang cukup untuk keluarganya walaupun ada musuh yang siap mengambil bahan makanan mereka. Gideon nggak kekurangan akal. Demi melakukan kewajibannya pemerasan anggur dijadikannya tempat untuk membersihkan gandum, tempat yg enggak pernah terpikirkan oleh pihak musuh untuk melakukan hal itu.

Gideon dipanggil Tuhan pada saat dia melakukan tugasnya dengan tekun dan setia. ketekunan dan kesetiannya itu dilihat Tuhan, sekalipun mungkin yang ia kerjakan itu nggak ada hubungannya dengan apa yang nantinya dilakukannya buat Tuhan. Di situlah dia menerima panggilan Tuhan untuk sebuah tugas luar biasa.

karna itu, marilah kita seperti Gideon , memusatkan perhatian kita kepada tugas dan tanggung jawab kita, dan mempercayai Tuhan bahwa Tuhan akan memakai kita sebagai alat kemuliaanNya ketika waktuNya tiba. :)


TUHAN MEMAKAI ORANG YANG SETIA SEPERTI GIDEON ( DAN JUGA KITA ) UNTUK MELAKUKAN HAL YANG LUAR BIASA. ^^
Diposting oleh Unknown di 02.43 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Minggu, 16 Juni 2013

Catatan seorang Papa

"PAPA"
Biasanya anak-anak yg jauh dari orang tuanya merasa kangeeen sekali dgn mamanya..Lalu bagaimana dgn papa?Mungkin mama lebih sering menanyakan keadaan anaknya setiap hari, tp taukah kamu jika papamu yg mengingatkannya utk menelfonmu?Mgkn mama yg lebih sering mengajakmu bercerita, tp taukah kamu sepulangnya ia bekerja dgn wajah lelah ia selalu menanyakan kabarmu dari mama mu?waktu kecil..Papa mengajari putri kecilnya bermain sepeda. Setelah dia mengganggap kamu bisa ia melepaskan roda bantu di sepedamu, saat itu mama menutup mata karena takut anaknya terjatuh lalu terluka, tp papa dgn yakin menatapmu mengayuh sepeda dgn pelan karena dia tahu putri kecilnya pasti bisa.Saat kamu menangis meronta meminta boneka yg baru, mama menatapmu iba, tetapi papa mengatakan dgn tegas "kita beli nanti, tp tidak sekarang" karena ia tidak ingin kamu menjadi manja dgn semua tuntutan yg selalu di penuhi.ketika kamu remaja..Kamu mulai menuntut utk keluar malam. Lalu papa mulai bersikap lebih tegas ketika mengatakan "tidak".itu utk menjagamu karena kamu adalah sesuatu yg berharga.Lalu kamu masuk ke kamar membanting pintu.Tp yg dtg mengetok pintu dan membujuk mu adalah mama.Taukah kamu saat itu dia memejamkan matanya dan menahan diri, karena dia sangat ingin mengikuti keinginanmu. Tp lagi2 dia harus menjagamu.Saat seorang cowok mulai sering datang mencarimu, papa akan memasang wajah paling cool sedunia. Dan sesekali menguping/mengintip saat kmu sdg brdua di ruang tamu. Tahukah kmu dia merasa cemburu?dan saat dia melonggarkan sedikit peraturan, kamu melanggar jam malamnya. Ia duduk di ruang tamu menunggu mu pulang dgn sangat2 khawatir. Wajah khawatir itu mengeras ketika melihat putri kecilnya pulang terlalu larut. Dia marah. Karena hal yg di takutinya akhirnya tjd, "putri kecilnya sudah tidak ada lg".Saat papa sedikit memaksamu utk jd seorang dokter. Ketahuilah bahwa ia hanya memikirkan masa depanmu nanti. Tp toh dia tetap tersenyum saat pilihanmu adalah menjadi seorang penulis.Sampai saat papa harus melepasmu di bandara. Bahkan badannya terlalu kaku utk memelukmu. Ia hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu. Dia ingin menangis seperti mama yg menangis dan memelukmu erat. Tp dia hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya dan menepuk pundakmu berkata "jaga diri baik2". Agar kamu kuat utk pergi.Saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yg mengerutkan kening adalah papa. Berusaha mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dgn yg lain.Ketika permintaanmu bukan lg sekedar meminta boneka baru, dan ia tau ia tidak bisa memberikan, dia sangat ingin mengatakan "iya nak,nanti kita beli" dan saat kata2 yg keluar adalah "tidak bisa" dari bibirnya, tahukah kamu ia merasa gagal membuat anaknya tersenyum?Saat kamu sakit dan tidak berada di dekatnya, papa terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak berkata "sudah di blg jgn minum air dingin!", berbeda dgn mama yg memperhatikanmu dgn lembut.ketahuilah saat itu ia benar2 khawatir dgn keadaanmu.dan di saatnya nanti kamu wisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah org pertama yg berdiri dan memberi tepuk tangan utkmu. Dia yg tersenyum bangga dan puas melihat "putri kecilnya yg tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang".Sampai saat seorang teman hidupmu datang dan meminta izin mengambilmu darinya, papa akan sangat berhati2 memberikan izin, karena ia tau laki2 itu yg nanti akan menggantikannya.dan saat Papa melihat mu di pernikahan bersama seseorang yg di anggapnya pantas menggantikannya, papa pergi kebelakang panggung, dan menangis "tugasku telah selesai dgn baik, putri kecilku yg lucu telah menjadi wanita yg cantik".Papa hanya bisa menunggu kedatangan mu dan cucu2nya sesekali utk menjenguknya, dgn rambut yg telah memutih dan badan yg tak lagi kuat utk menjagamu dari bahaya. Papa adalah sosok yg harus selalu terlihat kuat bahkan ketika dia tidak kuat utk tdk menangis. Harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Papa jg orang pertama yg selalu yakin bahwa "kamu bisa" dalam hal apapun.tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih sayang seorang papa hingga tugasnya selesai. kamu adalah salah satu org yg beruntung, krn papa adalah sosok superhero yg hebat..


Diposting oleh Unknown di 07.14 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Postingan Lebih Baru Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

~ This Is Me ~

~ This Is Me ~
I'm Not Perfect :)

Arsip Blog Saya

  • ▼  2013 (9)
    • ▼  Agustus (7)
      • Abaikan Saja
      • The Window
      • Kesalahan Yang Sama
      • Your Prespective
      • Hal Kecil
      • Kasih Setia Tuhan
      • Tuhan Besar ( Renungan )
    • ►  Juli (1)
      • Tekun Dan Setia ( Buku Teeneagle )
    • ►  Juni (1)
      • Catatan seorang Papa

Me

Unknown
Lihat profil lengkapku
Tema Kelembutan. Diberdayakan oleh Blogger.